sebenarnya saya tidak mengerti, mengapa saya bertahan disini...
diposisi yang sekarang, memang untuk mendapatkan posisi yang sekarang ini saya telah mengorbankan kesempatan untuk menjadi seorang pegawai di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia *lengkapnya boooow*
Setelah melepaskan kesempatan itu saya masih harus sekolah untuk mendapatkan satu gelar yang lebih tinggi dari sebelumnya... yah setelah selesai mendapat gelar master sayapun melamar sebagai Asisten Akademik di Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah di bawah FTSL... yah alhamdulillah saya diterima sebagai anggota KK tanpa hambatan yang berarti...
Setelah SK rektor itu turun saya ditawari beasiswa untuk studi ke Jepang, sebenarnya saya tidak yakin bisa melengkapi persyaratan yang diajukan karena waktu itu saya sedang menangani suatu pekerjaan bersama BPLHD Jawa Barat dan sangat mepet dengan kepergian saya ke Jepang untuk training... Yah , saya melakukan semuanya sendiri tanpa ada link dari dosen... semua sendiri... mencari kenalan professor sendiri... dan alhamdulillah saya mendapatkan 2 professor yang menanggapi saya dengan baik dan sangat antusias terlebih setelah melihat CV dan academic record saya... salah satu professor malah menawari saya beasiswa MEXT U to U dimana klo waktu itu saya mendaftar maka dialah yang akan mengusahakan beasiswa saya pada pemerintah Jepang.... klo inget bagian yang ini saya merasa sungguh BODOH... kesempatannya besar sekali...
Dipertengahan menunggu beasiswa itu saya menikah... sebenarnya hati saya agak berat dengan segala kenyataan beasiswa dan keharusan saya diam di Bandung sementara suami di Balikpapan karena sudah terikat kontrak... saya hanya berdoa kepada Allah untuk diberikan jalan yang terbaik...
hasilnya: Saya memang belum beruntung, dan saya baru tau kalau saya tidak diterima itu setelah 3 bulan pengumuman penerimaan beasiswa tersebut.... artinya 3 bulan tersia2kan tanpa melakukan apapun terkait studi S3... tapi mungkin itulah yang terbaik...
Setelah saya tahu bahwa saya tidak mendapatkan beasiswa itu, sebenarnya hati saya sedikit lebih lega, namun semua orang berharap agar saya secepatnya melanjutkan S3 dan kalau bisa mendapatkan beasiswa ke luar negri...
Lalu apa yang saya rasakan sebagai AA? yah hidupnya terombang ambing... berkali2 saya merasa bodoh telah memilih jalan hidup yang ini... berada pada rantai makanan terbawah di sebuah institusi, bahkan lebih bawah daripada mahasiswa... hahhaha... menyedihkan... sebenarnya saya sudah tau 'upah yang dibayarkan' adalah sekedarnya... pada awalnya saya tidak peduli... rejeki bisa datang darimana saja.... dan alhamdulillah memang rejeki tidak pernah jauh dari keluarga saya... bahkan saya tidak mempermasalahkan upah yang ditunda pembayarannya berbulan-bulan.... ahh yang penting saya masih bisa belajar
Kemudian Allah menitipkan sesuatu yang sangat luar biasa kepada saya dan suami, positif hamil... perasaan yang ada campur aduk, senang dan galau... tapi saya yakin inilah jawaban Allah atas doa2 saya... saya mulai merasa ada beban mental untuk datang setiap hari ke kampus dimana di kehamilan saya ini, saya tidak diijinkan membawa mobil... inilah saat2 saya bergantung pada orang lain....
Untuk pergi ke kampus pada awalnya saya masih mengandalkan Taksi untuk pergi dan pulang...tidak mungkin menggunakan angkot karena perjalanan menuju tempat naik angkot membuat perut bawah saya kram. disini saya mulai berhitung... Astagfirullah, saya menghabiskan uang hasil jerih payah suami yang harus terpisah jauh dari saya demi pekerjaan saya yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah tapi ntah mengapa saya harus nongkrong di kampus setiap hari.... ya Allah saya tidak punya fasilitas di kampus yang membuat saya nyaman, saya tidak punya ruangan sehingga saya tidak bisa menaruh perangkat komputer pada akhirnya harus menjinjing laptop... yah klo lg ga hamil sih kuat2 aja naik angkot bawa ini itu dll... tp keadaan saya sekarang jauuuhh berbeda.... saya sempat terlalu capai sampai migrain menyerang yang diperparah dengan ketidakseimbangan hormon ketika hamil muda dan saya harus menginap di RS selama 2 malam...
Dititik itu saya mulai jarang ke kampus, tak peduli orang bilang apa, toh mereka tidak tau keadaan saya seperti apa... setelah tragedi sampai masuk rumah sakit itu saya merasa merepotkan semua orang, ibu saya harus menunggui saya... dan saya sepenuhnya bergantung pada orang lain... saya benci itu.... tapi alhamdulillah semua keluarga saya masih mendukung pilihan saya...
Ketika Stamina mulai membaik, kehamilan umur 5 bulan saya sempat memiliki semangat lagi untuk ke kampus.... alhamdulillah saya masih dipercaya untuk mendapat pekerjaan... bahkan lebih banyak dari AA yang lain... hahha walau pada akhirnya keteteran juga.... disitu saat2 saya bekerja benar2 untuk memperoleh ridho Allah
masuk trimester 3, kenaikan berat badan sudah sangat banyak, terkadang pulang kampus dengan kaki bengkak penuh cairan teretensi, sakit pinggang yang luar biasa karena tempat duduk yang tidak ergonomis, tp saya masih tetap menikmati pekerjaan saya... sampai akhirnya saya hanya sanggup ke kampus 3 hari dalam seminggu....
akhirnya saya mengerti pekerjaan ini memang bukan untuk mencari materi atau kebanggaan saja... banyak hal yang perlu dikorbankan... disini sangat dituntut loyalitas, apalagi setelah 2 tahun berakhir maka saya tidak akan punya status di institusi itu... menyedihkan, ketika digembar gemborkan ITB kekurangan tenaga pengajar... proses kaderisasinya tidak jelas...
Saya tersentak ketika seorang professor bertanya kepada saya 'Apa yang kamu rencanakan setelah Bulan Agustus Dini?' (SK AA saya habis agustus 2012)... seakan menemukan semangat baru... memang rencana saya akan mengambil S3 di ITB saja hitung2 sambil mengurus anak dan semoga suami mendapat pekerjaan rooster :)... tp dengan pertanyaan bapak Professor itu beribu harapan muncul kembali.... saya berpikir, kenapa saya harus diam di ITB? mungkin nanti ada kesempatan yang lebih baik... mungkin suatu saat saya bisa berperan memperbaiki nasib orang-orang seperti saya sekarang ini...
Saya tidak mau, ketika saya seperti 'disiksa' sekarang ini kemudian saya menyiksa orang ketika sudah di atas....
Saya punya cita-cita, membantu hidup peneliti dan perkembangan penelitian di Indonesia... ntah kapan bisa terwujud, tp pemikiran itu hadir dari apa yang saya alami sekarang ini... Mungkin Allah punya maksud dengan semua ini...

